Tragedi Berdarah Mengerikan 11 April 2001 di Ellis Park

Tepatnya 11 April 2001, bidang sepakbola internasional sudah dikejutkan dengan keterangan duka yang bersumber dari negara kawasan Nelson Mandela, Afrika Selatan. Ellis Park Staium berada ada di kota Johannesburg. Pada hari itu sedang berlangsung laga derby Soweto yang pun adalah derby terpanas di Afrika Selatan, dimana Kaizer Chiefs saat itu melawan Orlando Pirates.

Informasi yang berasal dari halaman ini mengatakan Saat itu, menjelang kick-off dimulai, stadion telah mulai disesaki oleh semua suporter dari dua tim. Kira-kira ada 60 ribu suporter sudah memadati isi dari stadion yang sudah dibangun tahun 1928 itu. Namun kabar buruknya, ada sekitar 30 ribu suporter yang mendesak masuk ke dalam stadion yang sebetulnya sudah sesak. Dan separuh laporan pun menyebutkan bila stadion tersebut sudah dipenuhi 120 ribu suporter. Didalam pertandingan itu, kedua tim tersebut main seri 1-1. Kaizer Chiefs lebih dulu melewati gol yang dibuat Siyabonga Nomvethe di menit ke-14. Sehabis terciptanya gol awal tersebut, sebagian penonton kian memaksa masuk.

Dan sekian menit berselang, Orlando Pirates sukses menyamakan skor melalui kaki Benedict Vilakazi. Kondisi itu melengkapi keadaan makin tak terkontrol, usai semua penonton yang telah ada didalam tribun, terasa terdesak lantaran ulah penonton yang memaksa masuk via belakang. Seketika, penonton yang lagi menyaksikan laga tersebut, berubah melihat tontonan orang-orang sekarat tergeletak di atas lapangan hijau, pasca mendapatkan bantuan petugas.

Ambulan banyak dikerahkan masuk kedalam area stadion. Sampai-sampai Helikopter pun turun kedalam lapangan, naasnya, helikopter itu ternyata tak banyak mengangkut suporter sekarat, hal begitu dikarenakan maraknya jumlah suporter yang sudah merenggangkan nyawa. Pertandingan kemudian dihentikan saat laga sudah berjalan 33 menit, wasit mengambil keputusan tuk meminta pada pengawas pertandingan supaya segera menghentikan laga.

Kondisi di stadion jadi begitu mencekam. Kesedihan terlihat dari berbagai penjuru stadion. Mulai penonton, petugas laga, pengawas pertandingan, hingga wasit turut menitikan air matanya. Puluhan kanting jenazah nampak dijejerkan di sekeliling pinggir lapangan. Dan tidak sedikit juga jenazah yang hanya tertutup kertas koran, sementara muka mereka ditutupi baju yang mereka pakai.

Dan pendapat Jabulani Jali, yang merupakan seorang penggiat sepakbola yang turut menonton laga itu, mengaku bila dirinya sudah melihat kekacauan didalam stadion semenjak sebelum laga. “Sebelum laga ini berjalan, telah terjadi sejumlah permasalahan didalam stadion Ellis Park. Tidak sedikit suporter yang telah terjebak,” tutur Jali didalam film dokumenter ‘In The Name Of Game’. Jabulani pernah mempertanyakan kondisi kacau didalam laga itu pada petugas keamanan, karena Jabulani telah melihat tanda yang buruk secara kesiapan dari panitia laga. Lihat gambar lainnya

“Beberapa suporter menjajal tuk memberikan tekanan pada orang-orang yang akan masuk melewati atas tribun, tetapi para suporter yang memasuki terpaksa mendorong suporter lainnya yang sudah terletak di stadion,” ujarnya menerangkan. Jabulani tahu betul saat dirinya mencoba menanggapi Keadaan itu saat tragedi berlangsung.

Politisi di benua Afrika Selatan saat itu (yang lalu jadi presiden Afrika Selatan), Thabo Mbeki menghantarkan kasus itu kepada komisi yudisial Lalu 15 bulan kemudian, hakim Bernard Ngoepe mengungkapkan bila kelalaian mengantisipasi total suporter membludak jadi penyebab primer dari kasus itu. Laporan hakim Bernard Ngoepe masuk yaitu hingga 130 halaman yang didalamnya mengkambing hitamkan panitia laga, penonton, polisi, pejabat liga, lantaran koordinasi buruk antara mereka jadi penyebab kecelakaan itu. Ngoepe pun mendapatkan bukti dangan terdapatnya bukti korupsi dari semua petugas keamanan yang sudah menerima uang suap yang bersumber dari penonton tuk bisa masuk kedalam stadion. Lihat berita lainnya di https://agenbola.io/

Bandar Judi Bola: “Inilah ang Legenda Argentina Sepanjang Masa, Batistuta!!”

Gabriel Omar Batistuta atau hanya Batistuta ialah pencetak gol paling banyak sepanjang masa dari negara Argentina. Batigol sudah melewati legenda Argentina lain sebagaimana Diego Maradona, Daniel Pasarela, dan Mario Cempes. Batistuta menautkan 56 gol di 78 performanya bersama dengan tim nasional Argentina. Batistuta membela tim Tango pada saat 3 kali piala dunia yakni di USA (1994), Prancis (1998), lalu Jepang serta Korea Selatan (2002). Batistuta merupakan striker yang ditakuti oleh hampir semua lawannya, tendangannya begitu keras nan akurat, Batistuta pun sering mencetak gol melalui sundulan.

Bandar Bola

Tak cuma di timnas Argentina, Batistuta pun menjelma sebagai legenda di Italia setelah 9 musim bela Fiorentina. Walaupun La Viola terpental ke seri B, tetapi Batistuta tetap bertahan Dan mampu menghantarkan Fiorentina balik lagi ke seri A. Sebagai rasa hormat tuk Batistuta, fans Fiorentina mendirikan patung Batistuta pas di depan stadion Artemio Franchi di Firenze. Walaupun berhasil membawa kembali Fiorentina menuju seri A, tetapi Batistuta tidak pernah merasakan scudeto dengan klub tersebut. Batistuta yang baru memenangkan titel juara ketika membela AS Roma. Harga transfer Batistuta dari Fiorentina ke AS Roma ialah nilai paling tinggi saat itu, yakni 70 Miliar Lira.

Bos AS Roma saat itu, Fabio Capelo mengungkapkan didalam Majalah La Gazzeta (Mei 2000), bila ada yang mengungkapkan nilai trasfer senilai 70 Miliar terdengar gila, tetapi tidak dengan Capello. Batigol memiliki level yang berbeda, nilai sekitar itu terasa tak banyak. Batistuta merupakan pemain istimewa, dengan terdapatnya Batistuta, segala sesuatu bakal menjadi lebih baik. Semata-mata hanya pelatih bodoh yang bakal menempatkannya di kursi cadangan saat dia fit.

Legenda sepanjang masa dari Brazil, Pele pun sependapat sebagaimana Fabio Capelo. Nilai sebesar itu cuma 5 persen dari apa yang dipunya AS Roma, nilai itu sangat pantas memasuki ke dompet pemain sehebat Batistuta. Jika AS Roma berjumpa kontra Fiorentina, gol Batigol berhasil selaku penentu kemenangan Roma, tetapi Batistuta tak merayakan golnya tersebut. Tetapi sebaliknya, Batistuta justru menitikkan air matanya. Penonton Fiorentina marah besar, relief Batistuta yang ada di depan stadion Artemio Franchi pula dirobohkan.

Batistuta adalah pemain yang amat disegani kawan seolah-olah lawannya, dan dirinya disanjung oleh para pendahulunya. Batistuta menguasai kharisma tersendiri. Julinho Botelho, midfielder sayap yang terlebih dahulu pernah membela Fiorentina (1950), bilang Batistuta menjadi pemain yang memiliki kemampuan lengkap. “Saya menyaksikan gol Batistuta di TV saat melawan Manchester United. Gol itu menegaskan kualitasnya. Batistuta ialah seorang pemimpin,” dikutip La Gazzeta, 1999 December.

Kawan satu tim Batistuta di Fiorentina, Daniel Adani beranggapan Batistuta ialah nyawa tim. Dengan Batistuta, Fiorentina tidak akan pernah gentar berhadapan pada pemain bintang dari sejumlah klub. “Kami tak pernah merasa gentar pada nama besar klub-klub lainnya, entah itu Ronaldo, Rivaldo, Cole, Yorke, Dennis Bergkamp, Kanu, Suker & Lopes, dan Kluivert. Kami tidak pernah takut berhadapan dengan siapa saja, karena kami memiliki Gabriel Batistuta,” tegas Adani pada La Gazzetta, Februari 2000.

Striker timnas Italia, Chistian Vieri, justru menolak bila dirinya dibandingkan dengan Batistuta. Menurut Vieri, Batistuta merupakan seorang ujung tombak paling baik di dunia. Begitu pula dengan penyerang tim nasional Brasil, Luiz Ronaldo yang melulu ingin berduet dengan Batistuta, tetapi tidak pernah kesampaian. Ronaldo mengatakan pernyataan itu dalam majalah Liga Italia Desember 1998. Batistuta mengukir karir sepakbolanya didalam klub Al Arabi, Qatar lalu berpaling sebagai pemain Polo. Batistuta sering mondar-mandir antara Argentina dengan Australia usai memiliki satu rumah mewah di negri kangguru tersebut. Lihat dan baca juga https://agenbola.io/category/berita-bola/prediksi-skor-pertandingan-bola/